Perubahan Tren Dalam Berwisata Di Era Millenial

DeLoano Glamping (pict: traveling yuk)

Kali ini saya akan membahas perubahan tren dalam berwisata di era millenial versi saya. Saat usia saya masih kecil, berwisata belum menjadi kegiatan wajib yang dilakukan orang. Banyak wisatawan yang datang disuatu destinasi hanya saat akhir pekan saja dan jumlah kunjungannyapun tidak banyak. Kala itu mayoritas wisatawan datang bersama keluarga. Pergi menuju destinasi dengan angkutan umum maupun kendaraan pribadi seperti motor. Jalananpun terlihat tidak begitu padat. Sekitar tahun 2000 tren wisata yang saya rasakan adalah pergi mengunjungi tempat bersejarah seperti candi dan museum. Candi terpopuler dengan jumlah wisatawan yang banyak pada saat itu adalah Candi Borobudur. Beberapa kali kesanapun pasti penuh orang saat akan naik. Saat kembali ke candi Borobudur sekitar tahun 2015 hal serupa masih saya alami. Atau mungkin memang objek wisata tersebut selalu dipenuhi pengunjung ya ?

Baca juga : Main ke Plunyon Kalikuning, Di Foto Dengan Aslinya Sama Gak Ya ?

Di tahun 2005 saya dikenalkan dengan objek wisata berbasis permainan. Waktu itu saya juga pergi bersama kedua orang tua saya mengunjungi Kids Fun Park, salah satu taman bermain di Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Wonosari dan di tahun (kalau gak salah) 2010 tepatnya dipusat kota Jogja saya juga mengunjungi objek wisata berbasis edukasi, yakni Taman Pintar. Namun saat masa-masa SMA perubahan berwisata mulai saya rasakan berbeda. Ya memang karena faktor usia juga sih kayaknya. Yang dulu main sama keluarga, berubah jadi main bareng teman- teman. Nah mulai dari sini, tempat yang sering dikunjungi adalah wisata alam. Pada saat itu masih banyak objek wisata alam yang memiliki TRAYEK menantang, dari jalan bebatuan hingga naik turun yang curam.

Baca juga : Teman Setia Di Minggu Pagi

Dari tahun ke tahun wisata alam menjadi primadona bagi banyak wisatawan. Namun perubahan mulai saya rasakan pada tahun-tahun belakangan ini dimana tren wisata alam dibumbui dengan banyaknya spot foto. Kini banyak wisatawan yang datang ke objek wisata bukan untuk menikmati wisatanya, justru hanya untuk memenuhi kebutuhan akan konten media sosial mereka saja. Banyak yang menyebut fenomena ini dengan Instagramable destination. Wisatawan mengetahui sumber informasi wisata dari Instagram yang kemudian ingin terlibat untuk mengikuti tren dengan mengunduh fotonya. Apakah jenis wisata ini sah ? Tentu saja, tapi ternyata kegiatan wisata seperti ini tidak memberi manfaat bagi masyarakat lokal karena pembelanjaan uangnya sedikit yang mungkin saja karena kurangnya lama tinggal. Padahal saat inipun banyak masyarakat yang mata pencahariannya bergantung pada destinasi yang ada disekitarnya. Menurutku sih juga rugi ya kalau mengunjungi suatu destinasi hanya untuk swa foto aja, ya gak sih ? Ada juga tuh yang sudah ngetren di luar negeri namanya Smart destination, perkembangan wisata ini biasanya terlihat pada suatu museum moderen, misalnya nih kalau aku mau masuk museum aku harus bisa lewatin satu game yang seru. Dan terakhir yang gak kalah hits adalah Glamping area, siapa sih yang ga kenal sama wisata satu ini, apalagi pernah diangkat jadi tren di tahun-tahun belakangan ini oleh menpar pada saat itu. Gimana nggak keren, glamping mampu memberikan pengalaman menginap dalam tenda di alam terbuka dengan dilengkapi fasilitas yang tidak kalah mewah dari hotel bintang lima. Cocok banget deh buat wisatawan yang suka gaya liburan normadic ala milenial gitu. Tahun depan tren wisatanya apa ya kira-kira ?


- Artikel ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi Pariwisata dan Hospitality

You Might Also Like

0 komentar