Berwisata Di Masa Pandemi, Kenapa Tidak ?

 


Awalnya seneng sih, bisa kerja dirumah dan belajar online. Semenjak dirumah aja, ada hal-hal baru yang bisa dilakukan. Masak, nonton film, bersih-bersih, sampai punya hobi baru. Tapi ternyata lama-lama bosan juga, rasanya seperti ada yang hilang karena lama gak berwisata. Semenjak Yogyakarta menerapkan tanggap darurat bencana covid19 pada bulan Maret lalu, banyak destinasi yang ditutup dan baru dibuka pada bulan Agustus ini. Salah satu dari banyaknya destinasi di Yogyakarta yang telah dibuka adalah Desa wisata Blue Lagoon. Bagaimana sih suasana disana ketika telah dibuka kembali dimasa adaptasi kebiasaan baru ?

Sumber: duakakikuu.com

Nah jika mau berkunjung, ada rute yang mudah nih dari pusat kota Yogyakarta. Kamu bisa lewat lempuyangan dan ambil arah ke jalan raya solo. Tinggal lurus terus dan melewati flyover Janti. Setelah itu belok kiri saat menemuakan petunjuk jalan menuju candi Sambisari dan terus ikuti jalan. Sebenarnya rute ini bukanlah satu-satunya, kamu bisa juga lewat Jl Kaliurang. Untuk lebih mudahnya pakai saja GPS saja. Desa Wisata Blue Lagoon berada di Area Sawah, Widodomartani, Kec. Ngemplak, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55584. Tenang, wilayahnya dijangkau oleh maps dan jangan takut kesasar, bila ragu jangan malu bertanya pada warga sekitar. 

Suasana Blue Lagoon Jogja

Desa Wisata Blue Lagon merupakan wisata alam yang digunakan untuk bermain air dan sudah ada sejak lama. Berawal dari mahasiswa yang iseng bermain lalu foto dan menguplod di media sosial, tiap sore jadi ada yg datang ke tempat ini. Barulah pada tahun 2015 desa wisata ini dibuat dan diresmikan langsung oleh Gubernur DIY dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman. Banyak wisatawan yang menjadikan Blue Lagoon sebagai tujuan wisata mereka karena letaknya yang tersembunyi, asri, dan menyejukkan.

Blue lagoon menyajikan pemandangan yang begitu natural, terdapat pohon bambu dan berbagai jenis tumbuhan yang dibiarkan hidup disekitarnya. Air disini juga terlihat bersih dan bening. Meski memasuki musim panas, air disini masih banyak, bisa buat nyemplung wkwk. Wisata air ini sering dikunjungi oleh wisatawan keluarga dan biasanya mereka membawa anak. Tak diragukan lagi, Desa Wisata Blue Lagoon dirasa cukup aman karena tidak terlalu dalam. Untuk anak-anak disediakan juga pelampung dan ban karet. Meski keindahan yang disuguhkan begitu bagus, tiket masuknya masih tergolong murah. Cukup bayar 5000 saja setiap orang sudah bisa mendapatkan tiket masuk beserta welcome drink, menarik bukan ?

Fasilitas wastafel di pintu masuk

Semenjak tutup karena adanya pandemi, Desa Wisata Blue Lagoon terus berbenah diri. Banyak hal-hal baru yang telah disiapkan untuk menyambut wisatawan saat destinasi ini telah buka kembali. Benar saja, saat saya berkunjung ke Blue Lagoonnya Jogja ini, para pengelolanya ternyata sudah matang dalam menyiapkan standar protokol covid19. Saat wisatawan datang, hal pertama yang harus dilakukan adalah cuci tangan dan akan dicek suhu terlebih dahulu oleh penjaga tiket. Jangan khawatir untuk mengantri hanya karena mau cuci tangan, disini telah disediakan tujuh wastafel di pintu masuk. Oh iya! Maskernya jangan lupa dipakai ya. Berwisata boleh, tapi jangan lupa lindungi dirimu dan orang disekitar mu dengan mentaati aturan yang ada. Social distancing juga perlu, biasanya tiap keluarga yang sedang bermain air akan jaga jarak. Langkah lain yang dilakukan oleh pengelola Desa Wisata Blue Lagoon untuk menjalankan protokol covid19 adalah dengan cara menyemprotkan disinfektan secara rutin selama tiga hari sekali. Selain itu pengelolaan tidak mengizinkan para pedagang untuk berjualan di area inti. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya kerumunan dan terlaksananya social distancing antar wisatawan. Tapi kalau mau jajan masih bisa kok, penjualnya pada mangkal di dekat parkiran. Jadi beli-belinya bisa sebelum atau sesudah berwisata ya.

In frame : Latifah, di salah satu spot foto

Ini adalah pertama kalinya aku berwisata di masa adaptasi kebiasaan baru, jujur banget ini selama berbulan-bulan belum berani ke destinasi. Meski masih sedikit takut, ternyata desa wisata ini juga memiliki gugus tugas covid19nya juga loh, ayem kan ya. Oh iya, saat aku kemari, ternyata wisatawan yang datang lumayan banyak dan bisa dilihat dari jumlah kendaraan yang berada di parkiran. Lahan parkirnya luas, untuk sepeda motor cukup membayar 2000 dan tempatnya teduh. Dan dan daan... area mobil muat banyak cuy.

Salah satu hal yang menyenangkan disini adalah toiletnya banyak, mudah ditemui, dan gak jauh-jauhan. Tapi ya itu, jangan lupa untuk bayar lagi ya. Eh iya, ternyata ada panggung juga disini. Jadi kalau mau ngadain acara tinggal pasang-pasang soundsystem deh. Kebetulan saat saya berkunjung sedang ada acara yang juga menampilkan beberapa tarian, salah satunya adalah Tari Bondan. Apa itu ? Nah aku baru tau ternyata Tari Bondan ini sudah ada sejak lama, tapi memang sudah jarang dipentaskan. Tari ini bercerita tentang seorang ibu yang sedang merawat anaknya. Dalam beberapa gerakan penari terlihat bak seorang ibu yang sedang menggendong dan menyuapi anaknya. Asli keren banget, gak nyangka penarinya masih duduk di bangku SMP. Para penari disini tergabung dalam sanggar tari Blue Lagoon Jogja. Kalau wisatawan betah disini, boleh banget nih sekalian nginep di homestay yang terlah disediakan oleh warga. Fasilitas lain di Desa Wisata Blue Lagoon ada gezebo dan pendopo, selama masa adaptasi baru ini masing-masing gazebo juga dibatasi dan hanya bisa diisi 2-4 orang saja. Ada juga pos keamanan untuk penitipan barang, penyewaan tikar, pelampung, ban, dan kacamata. Jadi, gausah bawa-bawa dari rumah ndak ribet wkwk.

Tari Bondan

Terus, apakah saya akan merekomendasikan anda untuk datang ke tempat ini ? Tentu saja. Selain karena atraksinya yang unik dan tersedianya fasilitas yang lengkap, Desa Wisata Blue Lagoon juga telah menerapkan standar protokol covid19. Skuy! Saatnya jalan-jalan tapi tetap aman. Selamat berwisata kawan :)



You Might Also Like

0 komentar