Serba Serbi Kegiatan di Java Summer Camp (Part 2)

Foto bersama

Saking padatnya kegiatan selama tiga hari mengikuti Java Summer Camp, tulisan ini aku bagi dua deh. Jangan lupa baca part 1 nya : Pengalaman Seru Bisa Ikut Java Summer Camp Dan ini cerita lanjutannya

Explore Candi Kedulan
Untuk menuju ke Candi Kedulan dibutuhkan waktu kurang lebih 45 menit saja dari rumah dome. Kunjungan kali ini adalah kedua kalinya untukku. Baru beberapa bulan yang lalu aku memposting di Instagramku saat berada di Candi Kedulan bersama Komunitas Kandang Kebo dalam acara blusukers. Saat itu kawasan Candi Kedulan belum tertata, tidak terlihat dari jalan, dan kondisi candi perwara belum sepenuhnya jadi. Namun, saat ini penataan kawasan Candi Kedulan sudah mulai nampak dari jalan raya. Beberapa fasilitas mulai ada dan candi perwarapun juga terlihat sempurna.

Candi Kedulan

Dulunya Candi Kedulan ditemukan dalam keadaan runtuh dan terbenam oleh lahar vulkanik pada 24 September 1993. Saat penambang pasir sedang menggali tanah untuk tanah urug, kemudian saat berada di kedalaman 3 meter mereka menemukan sususan batu candi. Candi Kedulan ini berlatar belakang agama Hindu.

Beberapa koleksi yang dipajang

Tak hanya menyuguhkan indahnya bangunan candi, di kawasan ini juga menyediakan sebuah tempat yang tidak begitu luas. Mungkin aku menyebutnya mini museum aja kali ya. Soalnya pas memasukinya tuh rasanya seperti dibawa ke tahun-tahun awal saat pertama candi Kedulan ditemukan. Mulai dari foto-foto yang dipajang dengan dilengkap deskripsi yang begitu mudah dipahami, kemudian ada beberapa koleksi yang dipajang hingga proyeksi kawasan candi Kedulan kedepannya, dan hebatnya lagi, meskipun tergolong baru sudah ada brosurnya gaes, unik lagi bentuknya. Saat mengelilingi mini museum ini, peserta yang paling banyak aktif adalah mereka yang berasal dari luar negeri. Hebat ya, sangat antusias gitu.

Explore Museum Gunung Api Merapi
Museum ini juga sering disebut dengan Museum Merapi ataupun MGM oleh warga sekitar. MGM sendiri bentuk bangunannya kerucut dan menyerupai gunung api. Di lantai satu pengunjung akan disambut dengan miniatur Gunung Merapi yang berada ditengah ruangan. Di lantai pertama koleksi yang dipamerkanpun beragam, ada peninggalan sejarah, koleksi batuan vulkanik, informasi penyebaran gunung api di Indonesia, jenis-jenis gunung api, beberapa infografis yang berisi tentang geologi, budaya, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk lantai dua beberapa koleksinya terdiri dari foto-foto letusan dari tahun ke tahun, evolusi Gunung Merapi, hingga alat-alat dan peraga gempa bumi dan tsunami.

Museum Gunung Merapi tampak depan

Satu tempat yang tidak boleh dilewatkan saat berada di museum ini adalah ruang auditoriumnya. Pengunjung bisa melihat film berisi fenomena yang terjadi pada gunung Merapi. Keluar dari museum, pengunjung bisa bersantai di taman yang telah disediakan. Fasilitas lainnya ada musholla, toilet, dan tempat parkir yang sangat luas. Semangat! Meski cuaca saat itu panas dan harus jalan jauh dari parkiran ke museum, tapi gak masalah. Cus, barangkali nanti bisa ketemu doi dan makan siang bareng. Se simpel itu aku nyemangatin diri sendiri, Hehe

Ruang auditorium

Tidak ada banyak perubahan yang terjadi di museum ini. Terakhir aku ke MGM adalah sekitar tahun 2013 silam. Namun fasilitas di museum ini semakin lengkap dan atraksi pun juga bertambah. Penasaran gak sih ? Sekarang kalau mengunjungi MGM jadi makin seru.

Tlogo Putri Kaliurang
Semakin sore semakin seru nih, apalagi udara di Kaliurang yang begitu dingin sekejap menghilangkan rasa lelah dan gerah. Monyet-monyet yang bergelantunganpun ikut menyambut kedatangan peserta JSC. Karena cuaca masih berada dalam musim panas, pastilah air terjun disini tidak mengalir deras. Maka dari itu beberapa rangkaian acara JSC hanya dilakukan di Tlogo Putri saja.

Workshop jadah tempe

Tepat pukul 14.00 aku bersama peserta JSC mengikuti workshop pembuatan Jadah Tempe. Pembuatannya pun cukup mudah. Pertama, beras ketan yang telah dicuci dan direndam dengan air selama beberapa jam lantas di kukus hingga matang. Setelah matang, ketan tersebut dicampur dengan kelapa parut dan ditambahi dengan sedikit garam. Jadi deh, jangan lupa disajikan bersama tempe bacem supaya gak sendiri alias jomblo seperti penulis. Eh ! yang benar tuh supaya rasanya makin enak. Perpaduan rasa yang gurih dan juga manis melebur disetiap kecapan. Selain Jadah Tempe, makanan khas Kaliurang lainnya adalah wajik. Jangan salah, wajik asli dari Kaliurang beda dengan yang dipasaran. Tidak kaku, super lembut dan manisnya gak kebangetan.

Atraksi Jathilan

Setelah selesai belajar membuat jadah tempe dan mencicipinya, kegiatan selanjutnya adalah menyaksikan atraksi jathilan yang merupakan salah satu tarian tradisional yang identik dengan balutan magis. Saat semua sedang menikmati penampilan tiba-tiba beberapa penari mulai kesurupan, penontonpun banyak yang menghindar dan menjauhi panggung. Namun tak berhenti disitu saja, justru pertunjukan semakin ramai tatkala atraksi makan kembang dan mengupas kelapa dengan gigi dilakukan oleh para penari jathilan. Sebagai penutup, peserta JSC menari bersama dengan penari. Hari semakin larut, kami pun menuju ke Desa Wisata Kelor untuk beristirahat. Jadi tendanya juga pindah gitu ceritanya.

Hari Ketiga

Desa Wisata Kelor 
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, hari ketiga ini merupakan hari terakhir pelaksanaan JSC ke-8. Acara sudah dimulai sejak pagi hari dengan aktivitas senam. Yak! tentu saja masih sama dengan instruktur senam yang kemaren, salah satu mas mas dari Saka Pariwisata Sleman. Selanjutnya sarapan dan tak lupa pula untuk bebersih diri. Pagi ini ada yang berbeda, teh hangat dan wedang sere tersajikan untuk para peserta di meja prasmanan.

Senam bersama

Oh iya meski dikelilingi kebun salak, desa wisata ini tidak hanya menyuguhkan pemandangan alam dan kegiatan outboundnya saja. Desa Wisata Kelor juga menjual paket wisata kampung sejarah dengan adanya salah satu jogjo bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Banyak pohon kelor yang juga tumbuh di desa ini. Makanya tidak heran jika makanan yang disuguhkan juga berbahan dasar daun kelor, beberapa diantaranya ada keripik kelor, sayur bobor kelor, dan puding kelor yang enak. Aku jadi ga enak ini sebenarnya, aku merasa bersalah udah habisin banyak cup puding. Kira-kira ada yang gak kebagian gak ya (maafkan saya).

Workshop Membatik
Ini dia yang ditunggu-tunggu dihari ketiga, workshop membatik. Ini adalah waktu yang saya nantikan sejak pagi hari. Ada banyak motif yang disediakan oleh panitia dan peserta bebas untuk memilihnya.

Proses membatik

Warna warni dari kain batik ini menghiasi halaman desa wisata kelor sesaat. Semua ini adalah karya peserta JSC, yah meskipun sudah bagus dari sananya karena kita tinggal nambah-nambah dikit tapi okelah. Dari awal kami diajarkan membatik langsung menggunakan malam dan canting. Memang sih agak susah karena kita harus benar-benar memperhatikan api pada kompor yang tidak boleh terlalu kecil bahkan juga tidak boleh terlalu panas juga. Sebenarnya super ribet sampai beberapa kali ganti kompor dan wajan juga, tapi asli ini seru banget.

Proses menjemur batik

Batik punyaku dan beberapa peserta lainnya terlihat tidak rapi, mungkin ini karena kami adalah pemula. Proses selanjutnya adalah pewarnaan, para peserta akan dibantu ibu-ibu desa kelor yang akan mencelupkan kain pada cairan naptol dan pewarna. Setelah itu proses perebusan agar malam meleleh dan kemudian dicuci. Siapa yang cuci kain batiknya ? ya masing-masing peserta dong. Ini adalah salah satu momen yang tidak terlupakan dimana para peserta berebut air ditempat yang sudah disediakan bahkan hingga berebut kamar mandi yang seharusnya tidak digunakan untuk mencuci batik, barbar luar biasa. Oh iya, proses terakhir adalah menjemur kain batik yang sudah dicuci tadi. Indah sekali, warna- warni kain terbentang di sepanjang mata memandang dengan sesekali bergerak karena tertiup angin. Gimana, terlihat indah bukan ? 

Workshop Menari dan Membuat Jaranan
Akhirnya tiba pada workshop terakhir di hari ke tiga ini. Panitia telah menyiapkan banyak pelepah salak untuk masing-masing peserta. Pelepah yang dipilih pastinya bukan yang sudah kering ya, tapi yang warnanya masih kehijauan supaya daunnya tidak kaku dan mudah dibentuk. Mulai dari sinilah daun-daun panjang tersebut dilipat setengah bagian dan dianyam. Bentuknya menyesuaikan kan ya, ujung kanan anggap saja kepala dan ujung kiri menyerupai ekor. Harusnya aku bikin video tutorialnya juga nih biar mantep. Nah sebelum menari, peserta diperbolehkan untuk mencoba memainkan alat-alat musik tradisional berupa gamelan yang sudah disiapkan di panggung dan pastinya ada yang membimbing dong. Salut ! Justru yang paling banyak mencoba memainkan alat musik tersebut adalah para bule, antusiasnya keren ya. Lanjut, setelah itu kami semua menari jaranan bersama dengan di iringi musik secara langsung.

Menari dengan jaranan

Akhirnya tiba di penghujung acara. Rasanya baru kemarin bertemu teman-teman baru, kenapa secepat ini upacara penutupannya tiba. Inilah momen-momen yang tidak mungkin aku lupakan, dimana semua membaur dan menari bersama dengan diiringi musik dari berbagai bahasa. Tidak memandang perbedaan suku, budaya, dan negara asal, semua senyum dan tertawa. Wajah-wajah yang terpancar hanyalah raut kebahagiaan. Ada banyak hal menyenangkan lainnya yang tidak mampu aku ceritakan disini. Pokoknya seneng dan pengen ikutan lagi :( tapi untuk tahun ini sepertinya di tiadakan karena sedang pandemi. Bagaimana jika tahun depan kita ikutan ? Bebas tanpa dipungut biaya loh.

Foto terakhir sebelum pulang

You Might Also Like

0 komentar