Nepal Van Java, Desa Yang Indah Dan Penuh Keramahtamahan

 


Memasuki musim hujan berarti muncul juga penyakit musiman, mager. Tarik selimut, pejamkan mata, dan dengarkan suara hujan. Badan sulit bangun saat beranjak dari tempat tidur, kecuali sudah bau Indomie rebus pakai sawi, bakso, dan telur ceplok. Ah mantap ! Memang yang paling romantis ketika hujan adalah dengan menyantap semangkuk mie kuah panas. Rasanya jadi sepuluh kali lebih enak. Ya gak ?

Oiyah, sudah seminggu Jogja diguyur hujan padahal pengen banget main keluar. Tiap hari scroll Instagram sambil milih-milih tempat mana yang cocok dikunjungi saat musim hujan. Tapi hati pengen ke Magelang karena memang sudah lama gak kesana. Yaudah, gas pol untuk besok pagi kita menuju Nepal Van Java ! Jadi aku kesana kemarin Rabu, 16 Desember 2020 dan aku merasa beruntung karena cuaca tampak cerah meski tak lama kemudian berubah menjadi mendung. Sampai tiba di tempat yang ditujupun, hujan belum kunjung turun. Untuk sampai di tempat ini aku pakai Gmaps aja, meski dikasih jalan yang seram dan bertemu dengan hewan hutan tapi untungnya bisa sampai dengan selamat.


Nepal Van Java menjadi tempat yang begitu menarik dan banyak dikunjungi wisatawan setelah viral lewat aplikasi Twitter, Tiktok dan Instagram. Banyak yang beranggapan bahwa tempat tersebut memiliki kemiripan dengan salah satu lereng pegunungan di Nepal, Namche Bazaar namanya.

Wisata ini terletak di Dusun, Butuh, Temanggung, Kaliangkrik, Magelang, Jawa Tengah. Untuk para pendaki mungkin sudah hafal jika mendengar kata Kaliangkrik karena tempat tersebut merupakan base camp pendakian menuju Gunung Sumbing. Desa ini juga merupakan desa tertinggi di Magelang karena berada di atas ketinggian 1.700an mdpl. Desa Butuh ini benar-benar lebih indah jika dilihat secara langsung, nuansa alamnya masih sangat terjaga dan sangat bersih lingkungannya. Aku jadi ingat pemandangan disini mirip dengan pemandangan di Dieng. 

Sehari aja di Dieng, bisa kemana aja ?


Saat tiba hal pertama yang aku lakukan adalah parkir motor terlebih dahulu. Jelas, karena motor wisatawan tidak di ijinkan untuk dibawa sampai keatas, meskipun motormu sanggup ya. Tapi oh tapi, sangat disayangkan ternyata tempat parkirnya terbuka tanpa peneduh gitu. Siap-siap motormu akan kehujanan dan jangan meninggal barang diatas motor ya. Mau nitip helm dan jaketpun gak bisa karena gak ada penitipan barang. Untuk parkir motor dikenakan biaya Rp 3.000 dan akan mendapatkan stiker bergambar suasana Nepal Van Java.

Oke, kita lanjutkan perjalanan. Ke kanan atau ke kiri ya ? Begitulah yang aku pikirkan untuk pertama kali saat mencari loket karena tidak ada petunjuk arah. Bermodalkan ilmu kira-kira, ayo kita dekati dimana ada banyak orang. Benar saja, di sanalah tempat membayar tiket masuknya. Cukup murah karena hanya dikenakan biaya sebanyak Rp 8.000 per orang. Tepat di sebelah loket, ada sebuah spot foto favorit wisatawan yang paling sering dijumpai di media sosial. Ternyata, untuk foto disini harus bayar lagi Rp 2.000 ya per orangnya. Oiya, ditempat ini kamu juga akan ditawarkan oleh penduduk lokal agar menggunakan ojek motor untuk menuju ke atas, biaya yang ditawarkan adalah Rp 30.000 . Gimana, mau jalan saja atau naik motor ?


Aku pilih jalan kaki aja, kan deket dan tinggal naik doang. Jadi, setelah melewati spot foto tadi selanjutnya aku menuju ke Masjid Baituttaqwa. Di serambi masjid inilah banyak wisatawan yang berfoto dengan latar belakang bukit yang hijau dan menyejukkan. Menakjubkan, bisa ada masjid yang begitu megah berdiri di kaki gunung dan tersedia fasilitas yang lengkap dan tempatnya yang bersih. Jadi makin semangat buat ibadah, bahagianya jadi dobel-dobel. 


Setelah swafoto, lanjut perjalanan lagi. Sayang sekali kalau udah sampai Nepal Van Java tapi gak naik ke gardu pandangannya, rasanya jadi setengah-setengah karena datang hanya untuk berfoto saja tanpa menikmati suasana yang ada. Lokasi gardu pandang dari masjid gak begitu jauh, jadi lanjut jalan kaki saja. Karena tadi belum sarapan, aku mampir beli soto di salah satu warung yang udah buka. Aku lupa nama warungnya, tapi disana makanan beratnya komplit dan porsinya gak sedikit. Tapi ya begitulah, meski makanan datang dalam kondisi panas karena suhu yang terlalu dingin rasanya jadi anget aja. Gapapa yang penting makan, jangan sampai kuat naik tapi gak kuat turun hehe.

Oke, gardu pandangannya dekat sejauh mata memandang. Ternyata! Pengen balik lagi, gak kuat naik. Dahlah turun aja terus pulang :( . Meski awalnya terlihat dekat ternyata lumayan jauh, lewatin jalan curam, anak tangga, masih naik bukit. Beuuh! Mending naik motor aja dah kalau tau bakal kayak gini. Tapi seru, bisa berpapasan dengan wisatawan lain dengan perjuangan yang sama. Pelan-pelan gak masalah, yang penting bisa sampai atas meski butuh waktu yang lumayan lama. Disini aku benar-benar nyesel karena selama ini gak pernah olah raga, jadi mudah capek jadinya.


Sampai atas gak mau balik dong, betah banget. Untungnya disini ada warung buat ngopi santai. Saking betahnya hujanpun turun. Gak terlalu deres sih, tapi hujannya kadang turun kadang reda, kadang hujan lagi. Sampai benar-benar reda aku baru turun karna waktu juga semakin sore. Disini ternyata pemandangannya gak kalah cantik, bagus banget bisa lihat pemandangan dibawah. Bisa lihat desa, wisatawan lain, dan warga lokal yang sedang bercocok tanam. Berat hati sebenarnya mau turun karena takut gak sampai parkiran haha. Baru juga setengah perjalanan, hujannya turun lagi. Alhamdulillah, bisa neduh dulu sambil istirahat. Waktu itu aku neduh di salah satu teras milik warga dan malah disuruh masuk, wah baiknya ya. Sepanjang perjalanan warga lokal juga ramah-ramah pada wisatawan, selalu bertegur sapa, dan menawarkan bantuan. 


Banyak hal baru yang aku dapatkan di perjalanan kali ini, semua yang tidak bisa dapatkan di kehidupan kota dan tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata. Jika diberi kesempatan mungkin aku akan mengunjungi tempat ini lagi suatu saat nanti. 

You Might Also Like

5 komentar

  1. Bagusss mbak. Naiknya jauh gak? Kalau bawa anak-anak bakal kuat? Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Duakakikuu2/23/2021

      Gak jauh banget mbak,kalau bawa anak kecil mungkin naik ojek aja. Kasihan capek kalau gak terbiasa

      Hapus
  2. Wah, dah sampai sini...medannya gimana? Ngeri kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duakakikuu2/23/2021

      Iya mbak, penasaran nih hehe. Ternyata emang agak ngeri

      Hapus