Berburu Kabut di Bukit Watu Payung

Posting Komentar
Berburu Kabut di Bukit Watu Payung. Wisata dengan pemandangan alam ini bisa jadi rekomendasi untukmu yang lagi pengen self healing. Yup ! Healing itu perlu gais, jangan sampai emosi di dalam jiwamu mengganggu aktivitas keseharianmu.

Terlalu sering berada dirumah karena pekerjaan dan memang lagi skripsian, kadang juga membuatku sesekali ingin merasakan kelegaan tersendiri di dalam hati dan pikiran. Salah satu caranya yaitu dengan pergi ke suatu tempat. Kali ini aku pergi ke salah satu Wisata Jogja yang berada dipegunungan. Geoforest Watu Payung Turunan, merupakan wisata dengan lanskap pemandangan alam. Perpaduan antara sungai, bukit, dan langit menjadi kesatuan yang begitu indah.
Geoforest Watu Payung Turunan beralamat di Dusun Turunan, Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Jarak dari Kota Yogyakarta yaitu sekitar 28 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam perjalanan. Lokasinya sangat mudah ditemukan, apalagi buat kamu yang berangkat dari arah Imogiri Barat. Meskipun akses jalan sudah lumayan baik, namun ada beberapa aspal yang mulai rusak dan ada lumpur dititik tertentu. Maklum musim hujan saat itu. Sayangnya jalanan tidak terlalu lebar untuk dua kendaraan besar ketika berpapasan dan tidak adanya pembatas jalan meskipun kanan kiri adalah jurang. 
Aku rekomendasikan kamu untuk datang ke Geoforest Watu Payung Turunan saat pagi hari ya. Watu Payung cocok untuk wisatawan berburu kabut dan sunrise. Pastikan kamu datang sebelum jam 06.00 WIB. Tetap berhati-hati selama perjalanan karena jalanannya yang berkelok dan curam, terlebih jika kamu datang saat masih gelap karena minim penerangan dan sesekali jalan masih tertutup kabut. 
Kenapa dinamakan Geoforest Watu Payung Turunan ? Seperti yang udah aku baca dipapan informasi, ternyata nama tersebut berasal dari adanya sebuah batu besar yang bentuknya mirip seperti payung. Oleh sebab itu dinamakan Watu Payung atau batu mirip payung. Untuk memasuki destinasi wisata ini, kamu akan melewati hutan jati dan jalan turunan mulai dari pintu masuk. Wisatawan akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 5000 tiap orangnya. Sedangkan untuk parkir motor Rp 3000 dan parkir mobil Rp 5000 .
FYI nih, waktu itu aku datang pas hari Selasa dan ternyata sepi banget, cuma ada dua pengunjung lain yang merupakan warga sekitar. Suasananya gak bising, hanya terdengar suara kicauan burung dan pepohonan yang diterpa angin. Cucok banget sih ini, duduk di ayunan sambil lihat matahari semakin naik dan hamparan kabut yang lama-kelamaan menunjukkan ada sungai dibawahnya. Udara disekitar juga terasa sejuk dan bersih. Emang paling bikin betah pemandangan yang beginian tuh !
Jika kamu sudah puas dengan melihat pemandangan alam sekitar, bisa banget nih main ayunan atau swafoto di beberapa spot yang unik dan instagramable. Beberapa diantaranya ada spot foto jembatan kayu, kubus raksasa, dan beberapa land art yang merupakan karya dari seorang seniman bernama Wisnu Ajitama.
Sesuai peraturan demi menjalankan prokes, Geoforest Watu Payung Turunan menyediakan beberapa wastafel untuk para pengunjung supaya mencuci tangan. Fasilitas di destinasi ini juga terbilang lengkap, ada area parkir yang luas, toilet di beberapa sudut, mushola, warung, gazebo, hingga pendopo. Tempat ini cocok untuk kamu kunjungi bersama keluarga, teman, maupun pasangan. 
Duakakikuu
Hallo ! Salam kenal. Ada banyak hal yang saya gemari, salah satunya menulis disini. Terimakasih telah berkunjung, ikuti juga media sosial saya ya

Related Posts

Posting Komentar