Cara Baru Menikmati Kota Jogja



Hai hai!
Ada melon ada semangka,
Yuk Jalan-jalan di kota Jogja

Memang di pusat kota ada apa? Padahal kota identik dengan macet dan bising. Objek wisata juga terbatas dan hanya ada beberapa saja. Eeiits! Tunggu dulu, kali ini aku akan bercerita pengalamanku saat tamasya dengan menelusuri sudut-sudut kota. Siapa tau dengan tulisan ini bisa jadi referensi atau weekend list kamu untuk liburan di Jogja.

Tepat dihari Minggu, aku bersama lima orang temanku mengikuti ekspedisi bangunan kuno, lebih tepatnya menelusuri jalan sepoi yang diadakan oleh Komunitas Kandang Kebo. Mungkin buat teman-teman masih asing dengan komunitas ini. Komunitas Kandang Kebo merupakan komunitas yang berfokus pada pelestarian situs dan relik bersejarah. Acara ini dimulai dengan seminar mengenai bangunan kuno dihari Sabtu sebelumnya. Sedangkan hari Minggu para peserta berkumpul di depan Istana Kepresidenan Yogyakarta atau lebih dikenal dengan nama Gedung Agung. Perjalanan dimulai kurang lebih pada jam 09.00 WIB. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Gedung Agung.


Ada apa di sana? Tentunya ada banyak tempat dengan ceritanya sendiri. Sesaat sebelum memasukinya, kami diceritakan sedikit mengenai Loji Kebon. Apa itu? Jadi, Gedung Agung dulunya adalah Loji Kebon yang merupakan kompleks yang dilengkapi dengan Societeit de Vereniging, tempat berdansanya para pejabat Belanda. Kata lainnya tempat dugem kali ya?. Kemudian kami mulai mengelilingi megahnya Gedung Agung setelah menitipkan tas ditempat yang telah disediakan. Meskipun pengunjung diperbolehkan masuk, tidak semua ruangan boleh dimasuki. Salah satunya kamar tidur. Untuk bertamu di Gedung Agung tidak boleh sendiri atau berdua saja ya. Bukan karena takut nanti bakal tersesat, namun memang sudah aturannya jika berkunjung harus bersama rombongan yang sebelumnya juga sudah mendapat izin dari pengelola setempat. Dan saat di Gedung Agung, bakal ada guide yang mengantar sekaligus menjelaskan terkait sejarah, fungsi maupun tataruang di dalam gedung. Oh iya, pastikan untuk tidak menggunakan kamera apalagi mengambil foto ya, karena memang beberapa tempat tidak diperbolehkan untuk itu. Yuk! Disiplin mulai dari diri sendiri.

Gedung Agung memiliki banyak ruangan nih, ada Ruang Garuda sebagai ruang utama untuk penyelenggaraan acara negara. Ruang Sudirman dan Ruang Diponegoro sebagai ruang penerimaan tamu kenegaraan. Dalam gedung yang sama, adapula Ruang Jamuan Makan VVIP serta Ruang Kesenian untuk pagelaran. Nah, di ruang kesenian ini ada seperangkat gamelan yang lengkap banget, ditambah lagi adanya kelir (layar putih) beserta wayang kulitnya. Di setiap dinding di gedung utama terdapat lukisan yang dibuat oleh beberapa seniman maestro. Disamping gedung utama,  terdapat akomodasi pendukung meliputi Wisma Negara, Wisma Indraprasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, Wisma Saptapratala, dan Wisma Jodipadi. Semua itu diperuntukkan bagi rombongan Presiden, Wakil Presiden, dan tamu kenegaraan yang bertandang. Karena Gedung Agung juga menjadi cagar budaya, di dalamnya juga terdapat museum yang menyimpan berbagai warisan benda seni bersejarah. Nah, salah satu yang menjadi tempat favoritku di Gedung Agung yaitu taman belakang, ini dia fotonya


Perjalan dilanjutkan ke Jalan Sepoi. Yang pertama adalah menuju ke Museum Benteng Vredeburg. Pasti sudah pada tau ya lokasinya dimana. Yas! Tepat di depan Gedung Agung. Di Museum Benteng Vredeburg kami langsung menjelajahi tiap diorama. Museum ini bercerita mengenai sejarah panjang, salah satunya adalah mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Cerita-cerita ini disuguhkan melalui miniatur yang di set sedemikan rupa di setiap ruang kecil berkaca. Pengunjung juga tidak akan merasa bosan karena didalam diorama sudah terdapat game yang disajikan dengan layar besar touch screen. Tingal pencet dan mainkan! Oh iya ternyata Oh ternyata, dibagian belakang gedung sudah ada yang baru yaitu taman bermain anak. Sudah lima tahun tidak berkunjung sekarang semakin bagus aja nih. Tepat jam 12.00 WIB, tiba waktunya makan siang, asik asik! Disini aku mengalami hal yang tidak semestinya, sepele sih. Kotak nasiku tidak ada sendoknya sendiri :( ya sudah, berdiri lagi dan ambil ganti yang baru. Dan setelah ambil baru, di dalam kotak nasiku sendoknya ada dua -_- apaan sih ini? Semacam dipermainkan. Haha, kebetulan yang sangat kebetulan.


Karena hari semakin terik, kami lanjut ke Taman Budaya. Dulunya Taman Budaya dan sekitarnya merupakan Loji Kecil. Loji kecil ini tepatnya di sebelah timur Vredeburg yang kini menjadi Shopping ke timur sampai perempatan Gondomanan. Dulunya loji ini sebagai tempat tinggal loh. Sayangnya, sudah banyak yang dibongkar dan diganti bangunan baru. Salah satu yang tersisa adalah Gedung Societet Militair yang dulunya dipakai sebagai tempat para serdadu militer Belanda bersantai.

Tiba-tiba langit berubah mendung, kami bergegas menelusuri jalan Brigjend Katamso sisi utara dan lanjut ke wijilan. Kami melewati salah satu pojok beteng di Jogja yang berada di sebelah timur laut keraton Yogakarta, tepatnya di selatan Perempatan Gondomanan atau pertigaan Jl. Ibu Ruswo. Namanya pojok beteng Tanjunganom. Namun, kondisi beteng sudah tidak berwujud karena dihancurkan oleh pihak tentara Inggris pada tahun 1812 di bulan Juni. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa geger sepehi yang merupakan peristiwa invasi Inggris ke Yogyakarta. Disebut geger sepehi karena serangan itu dipimpin oleh Kolonel Robert Rollo Gillespie yang menggunakan tentara sepoy/sepehi. Kemudian, pasukan Sepoy menyerang Keraton Yogyakarta yang waktu itu dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono II dan menghancurkan beteng pertahanan tersebut. Sisa puing bangunan saat ini masih ada namun sangatlah kecil.


Setelah diceritakan mengenai prasasti tersebut, kami melanjutkan perjalanan dan menyempatkan untuk melihat masjid Séla Panembahan, tepatnya berada di RT 41 RW 11 Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Untuk menuju ke masjid ini harus melewati gang sempit dengan berjalan kaki.  Meski dibangun pada masa Sri Sultan HB I, masjid ini masih berdiri kokoh di tengah padatnya perkampungan loh. Bangunannya masih dijaga sesuai bentuk aslinya sampai saat ini . Dulunya, masjid ini merupakan saksi bisu cikal bakal berdirinya wilayah Kraton Yogyakarta.


Huuuuh.. Disini capeknya mulai terasa. Maklum ya, jarang olahraga. Tapi pantang menyerah deh! Selanjutnya kita singgah di Keraton bagian belakang dan diceritakan mengenai penyerangan pada Keraton Yogyakarta oleh Kolonel Robert Rollo Gillespie bersama tentara sepoy/sepehi.


Aku kira ini saatnya perjalanan pulang, ternyata tidak. Meskipun rintikan hujan mulai terasa, perjalanan terus berlanjut menuju ndalem Mangkubumen. Dalem Mangkubumen ini dulunya didirikan sebagai tempat tinggal putra mahkota atau Pangeran Adipati Anom yang dibangun pada tahun 1865 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Namun, saat ini Dalem Mangkubumen digunakan sebagai kampus Universitas Widya Mataram yang letaknya dekat dengan Pasar Ngasem. Beberapa bangunan di Dalem Mangkubumen saat ini dijadikan sebagai ruang rektorat dan ruang kelas. Adapula pendopo yang begitu luas dengan ukiran yang indah di setiap tiang penyangganya. Halamannya pun juga luas dan ditanami pohon. Di sisi kiri dan kanan terdapat beberapa bangunan rumah tinggal. CTAAARR!!!! Suara petir mulai terdengar, hujan semakin deras, dan kami tertahan di tempat ini. Entah kenapa suasana menjadi sedikit mistis. Sayang sekali, mau tidak mau kami harus kembali ke parkiran motor di depan Museum Benteng Vredeburg menggunakan gocar supaya bisa cepat pulang ke rumah masing-masing.



Hari yang melelahkan, 
Pengalaman yang benar-benar menakjubkan. 
Rasanya aku jadi ingin tau lebih soal sejarah, hihihi

Komentar